Friday, August 12, 2011

Ramadhan

Turunnya nilai isi kenclengan

(Tony B. Trihartanto)


 

    Ramadhan 1432 H telah masuk ke hari ke 12. Sepuluh hari kedua dalam Ramadhan diyakini memberi berkah tersendiri bagi umat Islam yang beriman dan bertaqwa. Tatkala keimanan semakin meningkat, menahan lapar dan dahaga menjadi terbiasa, perhatian kepada sesama semakin membesar, ada sesuatu yang menurun cukup significant. Sadaqah yang dimasukkan jama'ah tarawih kedalam kenclengan semakin menurun. Ini semua jelas terlihat di papan pengumuman masjid, sebagai media komunikasi yang menunjukkan transparansi pengelolaan masjid. Pada 31 Juli 2011, malam pertama tarawih berjama'ah, isi kenclengan menunjukkan angka Rp. 875.000,- Suatu angka yang cukup bagus bagi masjid kecil kami, Al Mukhlisin. Angka ini menurun dihari kedua, tapi meningkat di hari ketiga. Adakah ini dikarenakan kesadaran untuk berbagi atau dampak diterimanya gaji pada 1 Agustus? Wallahu'alam. Namun, ternyata untuk selanjutnya, penurunan terasa konsisten sepanjang perjalanan Ramadhan kali ini.


 

Hari demi hari ditinggalkan oleh perjalanan bulan di langit yang tampak semakin membesar. Akan tetapi besarnya dana harian yang dicatat pengurus masjid justru semakin menurun. Walaupun tidak menurun secara tajam bagaikan jalan darat dari Wonogiri ke Ponorogo, penurunan ini tampak sangat konsisten. Rp. 825.000,- di malam kedua menjadi Rp. 962.000,- dan sesudah itu turun terus. Di malam kedua belas tercatat sebesar Rp. 412.050,- Memang jumlah jama'ah yang ikut tarawih dimalam ini juga semakin menyusut. Karenanya, jumlah dana terkumpul juga mengecil. Suatu phenomena yang pantas dicermati dan dikaji lebih komprehensif. Adakah ini hanya karena penurunan jumlah ma'mum shalat tarawih, ataukah karena umat menyadari bahwa mereka harus menyisihkan sebagian dana untuk persiapan lebaran mendatang, ataukah harga barang dan jasa yang semakin meroket? Asal bukan karena menipisnya iman dan taqwa umat Islam untuk merogoh kocek mereka sebagai salah satu rangkaian ibadah di bulan suci ini.


 

Yang pasti, hukum ekonomi yang "absurd" telah berjalan dengan baik di Negara tercinta ini. Permintaan akan barang & jasa yang pasti meningkat pada bulan Ramadhan tidak selalu diimbangi oleh supply yang cukup bagi masyarakat konsumen. Manakala Demand lebih besar daripada Supply, otomatis harga akan meningkat dengan cepat. Para supplier pasti akan mengambil kesempatan dalam periode ini, karena mereka juga membutuhkan dana untuk mengisi kenclengan di masjid masing-masing, mempersiapkan dana menyambut lebaran yang fitri untuk keluarga, dan juga menangguk kesempatan di dalam kesempitan orang lain. Apakah pemerintah (pusat maupun daerah) menyadari? Sudah pasti mereka sangat aware dengan kejadian yang selalu berulang setiap tahunnya. Masalahnya, adakah tindakan nyata yang diambil pemerintah untuk menjamin bahwa masyarakat luas tidak dirugikan dari mekanisme ekonomi semacam ini? Seringkali dinyatakan bahwa Operasi Pasar atau M/O telah dilakukan. Pengawasan sudah dijalankan. Monitoring ditingkatkan. Cukup kah semua hal tersebut meredam kenaikan harga? Pasti tidak !! Karena kalau stabilisasi harga tercapai, ibu rumah tangga tidak akan mengeluh pada suaminya bahwa THR tahun ini semakin mengecil dibanding tahun lalu. Anak-anak tak akan berharap cemas apakah lebaran kali ini mereka lebih bahagia dibanding Iedul Fitrie beberapa tahun yang lalu. Pengurus masjid akan lebih mampu berbagi dengan kaum dhuafa karena isi kenclengan bahkan meningkat searah perjalanan bulan suci Ramadhan. Allah Akbar, Allah Akbar, Allah Akbar, Walillahilham.

_(Jakarta Agustus 12, 2011)_

Sunday, July 31, 2011

Character Development

Grand Design untuk umat

(Tony B. Trihartanto)


 

    Hari ini 31 Juli 2011. Umat Islam di Indonesia menunggu keputusan bersama, melalui sidang Isbath, penentuan awal puasa Ramadhan 1432 H. Ibarat proses produktivitas pada umumnya, hemat saya, saat ini sebenarnya tingkat produktivitas manusia berada pada titik nadir. Konklusi saya sementara ini, awal Ramadhan merupakan awal kebangkitan dari umat manusia (Islam) melalui proses pembersihan diri, untuk selanjutnya membentuk kurva produksi yang lebih baik dimasa depan. Akhir dari proses pembenahan ini membuat umat Islam memiliki etos kerja, implementasi beragama, kehidupan habluminnallah dan hablumminannaas yang lebih bernas. Lebih baik dari hari kemarin, bahkan menuju kondisi kehidupan yang lebih seimbang dan sempurna. Inilah Grand Design yang datang dari langit.


 

    Bagaimana tidak? Seluruh cara kehidupan manusia dievaluasi, dilakukan over haul, dilaksanakan maintenance rutin, baik phisikal maupun ruhaniah. Kehidupan menjadi lebih teratur pada bulan suci ini. Umat manusia dilatih untuk Focus, Care, Innovative, dan Productive. "Fokus" pada ajaran Illahiah yang di tebarkan oleh Rasulullah saw. Berbagai bentuk ibadah, baik vertikal maupun horizontal, dikedepankan. Dipertajam. Diasah. Saatnya manusia melakukan introspeksi "Mengapa dan dengan tujuan apa manusia diciptakan?" Kegiatan kehidupan untuk lebih "Peduli" terhadap mahluk ciptaanNya yang lain dan lingkungan hidup manusia selalu dianjurkan untuk diperbanyak pada bulan ini. Kepedulian pada sesama dan pada lingkungan menjadikan hati ini lebih peka pada permasalahan orang lain. Bulan ini sebenarnya adalah bulan "Inovasi" bagi umat Islam. Umat wajib ber inovasi, karena mereka wajib mengatur kembali segala aspek kehidupan, baik dalam berusaha, waktu shalat, saur dan buka puasa yang amat berbeda dengan kehidupan keseharian selama ini. Sedangkan menjadi "Produktif," merupakan suatu tuntutan nyata bagi umat manusia untuk tetap bekerja dengan lebih baik walaupun pada bulan Ramadhan, karena pada dasarnya keberadaan Ramadhan dan seluruh kegiatannya tidak mungkin memberhentikan kegiatan kehidupan manusia itu sendiri. Bahkan umat Islam dituntut untuk lebih effisien dan effektif dalam pembagian waktu bekerja dan ibadah secara lengkap.


 

    Akankah mereka, umat Islam, mampu menjadi lebih siap untuk merangkai kurva produktivitas (Productivity Curve) lebih baik sesudah Ramadhan? Mari kita nanti dan amati bersama pada perjalanan selanjutnya.

_(Jakarta July 31, 2011: Menjelang Isbath)_

Monday, July 25, 2011

For Better Future

Masih ada lagi harapan Lain

(Tony B. Trihartanto)


 

    Naik kereta api (KA), tuut, tuut,tuut. Siapa hendak turut? Itu lagu jaman dulu, orang senang dan bangga naik alat transportasi ini. Karena bersih, teratur, murah dan tepat waktu maka KA menjadi favorit. Jaman sekarang? No way, kata anak muda di era global. Jangan bicara tentang KA super cepat ala Indonesia: Argo Bromo atau Argo Lawu. Lihatlah Kereta Rel Listrik (KRL) dan satu lagi, saudaranya, Commuter Line (KRL-CL). KA yang melayani wilayah Jabodetabek ini telah menjadi Kereta Penyiksaan (KP), bukan sekedar KA. KP ini hanya terdapat pada jaman jahiliah penjajahan kompeni Belanda dan Jepang.

    

    Bagaimana tidak? Naik KA model KP ini pada waktu jam sibuk sudah pasti bermandi peluh, berisiko terjepit, dan jangan berharap wajah cerah manakala mereka keluar dari KP setiba di setasiun tujuan. Di Jakarta, jam sibuk itu bukan hanya rush hours (jam ter-buru2) sebagaimana di negara tetangga, Singapura. Jam ini bisa terjadi kapan saja. Artinya, KP tadi bisa dirasakan oleh pelanggan at any time. Aneh rasanya, konsumen membayar sejumlah uang hanya untuk disiksa dan diangkut sekenanya, bak membawa binatang ternak. Jika hal ini diketahui pemerintah Australia, bisa-bisa kita kena penalti keras. Sangat keras bahkan. Jam ter-buru2 di negara tetangga pastilah ada. Namun, dalam keterburuan pun, warga negara mereka dilayani dengan baik. Di service dengan kereta yang dingin tanpa bertebarannya aroma keringat di dalam gerbong. Konsumen dilayani dengan frekwensi rangkaian yang tepat waktu, dapat diperhitungkan kedatangan maupun keberangkatannya, sekaligus harga terjangkau. Mereka semua sangat effisien dan effektif. Baik manajemen Commuter Line nya, Pemerintah Daerah dan Pusat nya, Pekerja kasar nya, serta konsumen nya.


 

    Pada mereka, rasa saling menghormati itu tampak nyata sekali. Upaya memanusiakan manusia itu jelas dapat dibaca. Penghargaan pada hak dan kebutuhan manusia baik yang primer, sekunder maupun tersier sangat jelas dan nyata. Itu semua karena Pemerintahnya dan pemberi layanan benar2 care. Bahkan sangat peduli. Masyarakatnya tahu berterimakasih dan ikut menjaga kesinambungan perbaikan layanan. Mengapa bisa terjadi demikian? Apakah mereka menghayati dan menerapkan Panca Sila terutama sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab? Sama sekali tidak. Mereka tidak memerlukan Panca Sila. Mereka tidak sekedar menghafal, menempel di dinding, menguji orang lain tentang Panca Sila, seolah dia sendiri sudah teruji. Mereka langsung menerapkannya dalam kehidupan nyata. Mereka mau mengerti kebutuhan rakyat dan bertanggung jawab memberikan layanan semaksimal mungkin. Trust & Trusted Society (Masyarakat yang Percaya dan dapat dipercaya) telah dikembangkan hampir sempurna. Disana.


 

    Bagaimana cara kita bisa mencontoh mereka yang berhasil memberikan excellent services pada rakyat mereka di negara yang manusiawi? Sangat mudah sekali! Para Pemimpin bangsa Indonesia di setiap level, harap kalian simak, camkan dan lakukan, ikutilah petunjuk ini: Pertama, hilangkan sifat sombong pada diri kalian, para pejabat negara. Kedua, bersikaplah mau belajar dan mengerti kebutuhan rakyat. Ketiga, terjunlah langsung ke lapangan tanpa harus diberikan pengawalan khusus. Sejak dari Ketua RT (walaupun bukan pejabat negara), Gubernur selaku penguasa tunggal daerah, Menteri selaku manajer sektor, Presiden sebagai otoritas tertinggi Negara ini, para anggota legislatif yang wajib menyusun hukum serta Kapolri komandan tertinggi pengamanan wilayah nasional, datanglah, belilah karcis dan naiklah KP atau moda transportasi umum lainnya (Bus kota, Ferry, Perahu dsb). Antrilah sendiri berdesakan untuk mendapatkan tiket yang dibutuhkan. Rasakan bau tetesan keringat dari ketiak rakyatmu. Cobalah peroleh injakan kaki penumpang sebelahmu. Duduklah berdesakan dengan penumpang lain (kalau kau dapatkan tempat duduk!!). Ikuti perasaanmu jika ada ibu hamil atau penumpang usia lanjut berdiri disebelahmu.


 

Semua pengalaman diatas adalah guru paling utama agar kalian, para pejabat, mampu merasakan derita, sakit dan sengsaranya menjadi orang kecil. Menghayati betapa terpuruknya menjadi kaum dhuafa yang harus berjuang di setiap celah dan strata kehidupan. Dari pelajaran kehidupan secara langsung tersebut, insyaAllah kalian, para pejabat akan menjadi cerdas, pintar dan bijaksana dalam mengambil keputusan untuk masyarakat luas. Jangan biarkan derita rakyat berkelanjutan. Cukup sudah mendengar keluhan mereka akan beratnya kehidupan masa kini, melihat betapa tersiksanya mereka memenuhi hajat hidup (yang bahkan hanya batas minimal). Kalau kalian, para pejabat tidak juga berubah menuju kebaikan dengan pengalaman ini, maka kalian adalah orang ter"gebleg" yang saya pernah kenali. Karenanya, kalian tidak pantas menjadi seorang pejabat.

_(Jakarta July 11, 2011)_

Just For Better Future

Mereka Salah satu harapan kita

(Tony B. Trihartanto)


 

    Sabtu minggu lalu, saya mengisi weekend berbincang dengan 3 orang tamu sohib baik yang sudah lama tidak bertemu muka. Keindahan langit sore hari itu membuat kami ber-empat semakin asyik membicarakan perilaku dan arah mana yang akan dituju bangsa Indonesia dalam situasi politik yang rasanya tidak menentu seperti saat ini. Dari perbincangan tersebut banyak hal yang dapat saya tangkap dan pelajari, bahwa sebenarnya para penyelenggara negara ini memang belum siap dan belum mau berubah, sesuai tuntutan reformasi.


 

    Dalam jabatannya yang cukup terpandang di salah satu Kementerian yang berperan mendorong dan melumasi mesin perekonomian nasional, sahabat saya banyak bercerita tentang harapan yang membuncah di dadanya. Harapan akan adanya perbaikan yang significant di kantor yang selama ini dihuninya. Suatu kantor kementerian yang menjadi tumpuan bagi semua orang untuk mendorong gerak majunya roda perekonomian negara dalam menggapai mimpi sebagaimana ikrar dalam pembukaan UUD '45. "Mencapai masyarakat yang adil dan makmur."


 

"Bagaimana saya tidak risau mas? Karena sampai detik ini perilaku pegawai negeri (PNS) dan para pejabat dilingkungan saya masih tetap sama dengan masa Orde Baru. Bahkan, boleh saya katakan, mereka menjadi jauh lebih ganas," ujarnya sambil tanpa henti menghembuskan asap rokok dari bibirnya yang menghitam. Sebenarnya, kami semua yang berada pada lini bawah di kantor ingin segera ada perobahan. Akan tetapi mana kami berani memulai. Kami hanya mengikuti apa kata mereka yang diatas! Walaupun wacana mereka adalah reformasi, akan tetapi polah mereka sama sekali tak ada bedanya dengan masa lalu. Kami ini apalah? Sekedar petugas suruhan, yang wajib mengikuti perintah atasan.


 

Apabila kami mendapat tugas ke daerah selama 7 (tujuh) hari, maka kami cukup berada di daerah hanya 3 (tiga) hari, lanjutnya. Sisa uang tugas secara official oleh atasan diberikan pada kami. Katanya: "Itu hak kalian." Tidak jelas bagi saya, apakah para atasan itu sebenarnya mengerti apa yang dimaksud dengan "Hak." Ini dia yang mengakibatkan jika setahun ada 365 (tiga ratus enampuluh lima) hari, akan tetapi seseorang bisa bertugas lebih dari 395 (tiga ratus sembilan puluh lima) hari. Itulah phenomena pegawai negeri sipil negara ini mas. Saya sangat mengerti mas, bahwa ini adalah korupsi model karyawan kecil seperti kami ini. Tetapi, ini harus kami terima. Karena ini sudah merupakan system yang established. Celakanya, para atasan memiliki model korupsi yang lebih canggih, lebih besar, lebih halus dan seolah lebih masuk akal bagi yang kurang teliti mengamatinya.


 

Syukur Alhamdulillah mas, beberapa waktu yang lalu tampaknya sudah ada semacam kesepakatan diantara kaum muda lulusan Perguruan Tinggi andalan bangsa ini yang berani berinisiatif di kantor kami. Kalaupun kepada mereka ditugaskan selama 7 (tujuh) hari dan pada kenyataannya mereka berada di daerah hanya 3 (tiga) hari maka sisa dana untuk 4 (empat) hari dengan ikhlas mereka kembalikan ke Kantor Perbendaharaan Negara (KPN). Secara implisit maupun explisit ini adalah bentuk pemberontakan mereka, kaum muda pada tatanan yang selama ini diberlakukan oleh para senior.


 

Kepada atasan, mereka tidak berani secara langsung menyatakan tidak mau dibayar untuk hari yang ke empat sampai dengan ketujuh. Pernah kejadian, salah seorang dari mereka mengatakan yang sebenarnya, dan menolak jumlah rupiah untuk yang 4 (empat) hari sisanya. Akibatnya, dia tidak lagi ditugaskan ataupun diajak untuk bertugas ke daerah. Berarti masa depannya telah tertutup. Langkah menyerahkan ke KPN merupakan langkah bijak orang muda. Pada dasarnya, kaum muda ini memiliki rasa malu pada diri mereka sendiri. Mereka lebih takut kepada Yang Maha Mengetahui dari pada kepada atasannya. Dan langkah yang mereka lakukan adalah langkah minimal yang bisa mereka tempuh, tanpa perlu menyakiti hati orang lain. Inilah tanggung jawab moral yang sangat tidak ternilai harganya.


 

Hanya satu pertanyaan saya mas. Sanggupkah mereka bertahan untuk tetap berperilaku terpuji seperti itu dalam lingkungan yang bertambah ganas di kantor ini? Dengan dorongan gaya hidup hedonis pada setiap orang di masyarakatnya? Saya benar2 sangat berharap pada mereka ini mas! Pada generasi saat ini yang akan memegang tampuk pimpinan di masa mendatang. Pada kelompok merekalah bangsa ini bisa berharap. Tidak kepada para pimpinan yang memegang posisi pada saat ini.


 

Kepada teman bincang-bincang saya ini, saya hanya dapat mengatakan insyaAllah. _(Jakarta July 11, 2011)_

Monday, July 11, 2011

KEBANGGAAN YANG TERKIKIS

Membaca koran hari ini, mencermati beberapa majalah di akhir minggu kemarin, menyimak berbagai iklan selama ini, rasanya saya sudah berani menarik suatu kesimpulan yang menyakitkan hati. Intinya hanya satu. Kepercayaan bangsa Indonesia terhadap dirinya sendiri telah semakin terkikis secara nyata. Coba perhatikan!! Iklan sabun mandi produk Indonesia menggunakan sosok selebritas kulit putih yang bukan bangsa sendiri. Iklan kesehatan, sami mawon. Rasanya bangsa ini tidak yakin bahwa saudaranya setanah air juga pantas dipajang sebagai iklan untuk kesehatan, karena memang mereka benar-benar sehat. Advertensi Jasa Perhotelan lebih sering menampilkan pasangan bule yang sedang menikmati liburan mereka di hotel domestik. Seakan pemasang iklan tidak percaya bahwa bangsa sendiri juga banyak yang berpredikat wisatawan. Hanya bedanya, di Indonesia disebut Wisnus. Saya benar-benar tidak mengerti, apakah pembedaan ini disebabkan oleh tebalnya kantong wisatawan tersebut.

Tidak terkecuali disektor konstruksi. Apakah benar bahwa mereka yang pantas memakai topi keselamatan adalah para pria berkulit putih? Ataukah sebenarnya pekerja nasional memang susah diatur, demi keselamatan kerja wajib pakai helmet pelindung kepala? Kalau saya cermati lebih mendalam, sebenarnya memang tidak terlalu aneh jika iklan para pemakai produk dan jasa itu dipilih warga asing yang berkulit putih. Karena iklan di sektor Pendidikan Tinggi (Kampus) domestik pun sangat banyak yang memanfaatkan jasa selebritis asing. Apakah karena keyakinan bahwa mereka yang berpendidikan tinggi pasti dari sana? Atau mungkin mereka sekedar mencomot bule dari Jalan Jaksa Jakarta Pusat yang sedang santai di Pasar Jalan Surabaya, Jakarta.

Itulah era global. Itulah pengaruh dan dampak dari kesejagadan. Sampai hari ini, tidak pernah ada iklan produk barang dan jasa Amerika yang menggunakan tenaga orang Indonesia. Apakah karena sosok dan wajah Indonesia mereka pandang tidak menjual? Bisa jadi mereka ini dianggap tidak berpotensi menimbukan dampak influencial? Wallahu'alam. Padahal, Indonesia sangat kaya akan ragam sukunya. Jelas mereka memiliki daya tarik masing-masing. Pasti mereka mempunyai influencial capacity. Kemungkinan, mata dan hati sebagian besar dari kita sedang tertutup, dan kita lebih suka menjual dengan mengandalkan wajah dan sosok yang sebenarnya asing buat kita. Inilah yang saya sebut: "Mutiara di pelupuk mata tak tampak, Loyang diujung dunia kelihatan jelas." Alangkah kasihan bangsa ini apabila pola pikir ini tidak kita rubah. Semua barang dan jasa produk nasional, dibuat dengan modal asing, dikerjakan di tanah air kita, dijual menggunakan pengaruh promosi luar negeri (barat), pembelinya orang nasional asli. Jika dihitung dengan Gross National Product, lalu bangsa ini memperoleh bagian yang mana dan berapa??
(Jakarta July 06, 2011)

Thursday, July 7, 2011

Selamat Pagi Nusantara


July 05, 2011. Merupakan hari pertama munculnya tulisan yang berupa pemikiran, renungan, creative ideas, complain, uneg-uneg, atau apapun namanya di dalam “blog” ini. Perjalanan hidup yang cukup panjang sampai pada titik hari ini telah memberikan pengalaman yang sangat tidak ternilai bagi kehidupan penulis sendiri dan mudah2an memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar yang (tentunya) pernah bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan penulis.

Perjalanan hidup manusia memang aneh. It is unpredictable. Walaupun bagis sebagian orang prediksi itu sering lebih tepat, khusus baginya. Banyak hal yang direncanakan, sebanyak itu pula yang tidak ter-realisir. Sebaliknya, banyak pula yang tidak direncanakan akan tetapi seringkali terjadi suatu kejadian tanpa diduga. Namun demikian, perencanaan yang baik dalam kehidupan memang sangat disarankan. Walaupun pada akhirnya apapun juga yang diberikan oleh – siapapun - juga harus diterima dengan penuh rasa syukur. Karena pada dasarnya harus diakui bahwa setiap orang dalam perjalanan hidupnya telah memiliki jatah masing-masing yang tidak dapat dikurangi ataupun ditambah sesuai dengan kemauan hatinya, apalagi nafsunya. Ibarat pakaian yang kita kenakan, semuanya sudah di design sedemikian rupa dan tepat sesuai ukurannya. Siapa designer nya? Wallaahu’alam. Jadikanlah itu semua sebagai anugerah nikmat yang selalu harus disyukuri. Itulah sebabnya kita diingatkan : “Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan? (QS.55)“

Blog ini di bangun untuk (paling tidak) mampu menampung pemikiran yang tidak dapat disalurkan melalui media lain dengan berbagai alasan. Yang pasti, keinginan untuk mengisi lembar kehidupan dengan nuansa yang positif mendasari keinginan untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak. Bukti selama dalam perjalanan kehidupan menunjukkan bahwa apapun juga, we are not the unlimited resources. Ada constraint yang disadari ataupun tidak disadari merupakan kendala bagi setiap orang. Masalahnya, mungkinkah kita mengolah kendala menjadi kesempatan? Constraint menjadi opportunities?

Dengan landasan dan konsepsi berpikir sebagaimana diuraikan dalam tulisan tersebut dalam paragraph diatas, dan dengan mengucap Bismillahirahmanirrahim, penulis memohon ridha dan berkah dari Allah swt the One and the Greatest Creator of the Universe and all living things contained in it.
_(Jakarta July 05, 2011)_
 

Copyright © Tony Bambang Tree