Monday, July 25, 2011

Just For Better Future

Mereka Salah satu harapan kita

(Tony B. Trihartanto)


 

    Sabtu minggu lalu, saya mengisi weekend berbincang dengan 3 orang tamu sohib baik yang sudah lama tidak bertemu muka. Keindahan langit sore hari itu membuat kami ber-empat semakin asyik membicarakan perilaku dan arah mana yang akan dituju bangsa Indonesia dalam situasi politik yang rasanya tidak menentu seperti saat ini. Dari perbincangan tersebut banyak hal yang dapat saya tangkap dan pelajari, bahwa sebenarnya para penyelenggara negara ini memang belum siap dan belum mau berubah, sesuai tuntutan reformasi.


 

    Dalam jabatannya yang cukup terpandang di salah satu Kementerian yang berperan mendorong dan melumasi mesin perekonomian nasional, sahabat saya banyak bercerita tentang harapan yang membuncah di dadanya. Harapan akan adanya perbaikan yang significant di kantor yang selama ini dihuninya. Suatu kantor kementerian yang menjadi tumpuan bagi semua orang untuk mendorong gerak majunya roda perekonomian negara dalam menggapai mimpi sebagaimana ikrar dalam pembukaan UUD '45. "Mencapai masyarakat yang adil dan makmur."


 

"Bagaimana saya tidak risau mas? Karena sampai detik ini perilaku pegawai negeri (PNS) dan para pejabat dilingkungan saya masih tetap sama dengan masa Orde Baru. Bahkan, boleh saya katakan, mereka menjadi jauh lebih ganas," ujarnya sambil tanpa henti menghembuskan asap rokok dari bibirnya yang menghitam. Sebenarnya, kami semua yang berada pada lini bawah di kantor ingin segera ada perobahan. Akan tetapi mana kami berani memulai. Kami hanya mengikuti apa kata mereka yang diatas! Walaupun wacana mereka adalah reformasi, akan tetapi polah mereka sama sekali tak ada bedanya dengan masa lalu. Kami ini apalah? Sekedar petugas suruhan, yang wajib mengikuti perintah atasan.


 

Apabila kami mendapat tugas ke daerah selama 7 (tujuh) hari, maka kami cukup berada di daerah hanya 3 (tiga) hari, lanjutnya. Sisa uang tugas secara official oleh atasan diberikan pada kami. Katanya: "Itu hak kalian." Tidak jelas bagi saya, apakah para atasan itu sebenarnya mengerti apa yang dimaksud dengan "Hak." Ini dia yang mengakibatkan jika setahun ada 365 (tiga ratus enampuluh lima) hari, akan tetapi seseorang bisa bertugas lebih dari 395 (tiga ratus sembilan puluh lima) hari. Itulah phenomena pegawai negeri sipil negara ini mas. Saya sangat mengerti mas, bahwa ini adalah korupsi model karyawan kecil seperti kami ini. Tetapi, ini harus kami terima. Karena ini sudah merupakan system yang established. Celakanya, para atasan memiliki model korupsi yang lebih canggih, lebih besar, lebih halus dan seolah lebih masuk akal bagi yang kurang teliti mengamatinya.


 

Syukur Alhamdulillah mas, beberapa waktu yang lalu tampaknya sudah ada semacam kesepakatan diantara kaum muda lulusan Perguruan Tinggi andalan bangsa ini yang berani berinisiatif di kantor kami. Kalaupun kepada mereka ditugaskan selama 7 (tujuh) hari dan pada kenyataannya mereka berada di daerah hanya 3 (tiga) hari maka sisa dana untuk 4 (empat) hari dengan ikhlas mereka kembalikan ke Kantor Perbendaharaan Negara (KPN). Secara implisit maupun explisit ini adalah bentuk pemberontakan mereka, kaum muda pada tatanan yang selama ini diberlakukan oleh para senior.


 

Kepada atasan, mereka tidak berani secara langsung menyatakan tidak mau dibayar untuk hari yang ke empat sampai dengan ketujuh. Pernah kejadian, salah seorang dari mereka mengatakan yang sebenarnya, dan menolak jumlah rupiah untuk yang 4 (empat) hari sisanya. Akibatnya, dia tidak lagi ditugaskan ataupun diajak untuk bertugas ke daerah. Berarti masa depannya telah tertutup. Langkah menyerahkan ke KPN merupakan langkah bijak orang muda. Pada dasarnya, kaum muda ini memiliki rasa malu pada diri mereka sendiri. Mereka lebih takut kepada Yang Maha Mengetahui dari pada kepada atasannya. Dan langkah yang mereka lakukan adalah langkah minimal yang bisa mereka tempuh, tanpa perlu menyakiti hati orang lain. Inilah tanggung jawab moral yang sangat tidak ternilai harganya.


 

Hanya satu pertanyaan saya mas. Sanggupkah mereka bertahan untuk tetap berperilaku terpuji seperti itu dalam lingkungan yang bertambah ganas di kantor ini? Dengan dorongan gaya hidup hedonis pada setiap orang di masyarakatnya? Saya benar2 sangat berharap pada mereka ini mas! Pada generasi saat ini yang akan memegang tampuk pimpinan di masa mendatang. Pada kelompok merekalah bangsa ini bisa berharap. Tidak kepada para pimpinan yang memegang posisi pada saat ini.


 

Kepada teman bincang-bincang saya ini, saya hanya dapat mengatakan insyaAllah. _(Jakarta July 11, 2011)_

0 comments:

Post a Comment

 

Copyright © Tony Bambang Tree