Membaca koran hari ini, mencermati beberapa majalah di akhir minggu kemarin, menyimak berbagai iklan selama ini, rasanya saya sudah berani menarik suatu kesimpulan yang menyakitkan hati. Intinya hanya satu. Kepercayaan bangsa Indonesia terhadap dirinya sendiri telah semakin terkikis secara nyata. Coba perhatikan!! Iklan sabun mandi produk Indonesia menggunakan sosok selebritas kulit putih yang bukan bangsa sendiri. Iklan kesehatan, sami mawon. Rasanya bangsa ini tidak yakin bahwa saudaranya setanah air juga pantas dipajang sebagai iklan untuk kesehatan, karena memang mereka benar-benar sehat. Advertensi Jasa Perhotelan lebih sering menampilkan pasangan bule yang sedang menikmati liburan mereka di hotel domestik. Seakan pemasang iklan tidak percaya bahwa bangsa sendiri juga banyak yang berpredikat wisatawan. Hanya bedanya, di Indonesia disebut Wisnus. Saya benar-benar tidak mengerti, apakah pembedaan ini disebabkan oleh tebalnya kantong wisatawan tersebut.
Tidak terkecuali disektor konstruksi. Apakah benar bahwa mereka yang pantas memakai topi keselamatan adalah para pria berkulit putih? Ataukah sebenarnya pekerja nasional memang susah diatur, demi keselamatan kerja wajib pakai helmet pelindung kepala? Kalau saya cermati lebih mendalam, sebenarnya memang tidak terlalu aneh jika iklan para pemakai produk dan jasa itu dipilih warga asing yang berkulit putih. Karena iklan di sektor Pendidikan Tinggi (Kampus) domestik pun sangat banyak yang memanfaatkan jasa selebritis asing. Apakah karena keyakinan bahwa mereka yang berpendidikan tinggi pasti dari sana? Atau mungkin mereka sekedar mencomot bule dari Jalan Jaksa Jakarta Pusat yang sedang santai di Pasar Jalan Surabaya, Jakarta.
Itulah era global. Itulah pengaruh dan dampak dari kesejagadan. Sampai hari ini, tidak pernah ada iklan produk barang dan jasa Amerika yang menggunakan tenaga orang Indonesia. Apakah karena sosok dan wajah Indonesia mereka pandang tidak menjual? Bisa jadi mereka ini dianggap tidak berpotensi menimbukan dampak influencial? Wallahu'alam. Padahal, Indonesia sangat kaya akan ragam sukunya. Jelas mereka memiliki daya tarik masing-masing. Pasti mereka mempunyai influencial capacity. Kemungkinan, mata dan hati sebagian besar dari kita sedang tertutup, dan kita lebih suka menjual dengan mengandalkan wajah dan sosok yang sebenarnya asing buat kita. Inilah yang saya sebut: "Mutiara di pelupuk mata tak tampak, Loyang diujung dunia kelihatan jelas." Alangkah kasihan bangsa ini apabila pola pikir ini tidak kita rubah. Semua barang dan jasa produk nasional, dibuat dengan modal asing, dikerjakan di tanah air kita, dijual menggunakan pengaruh promosi luar negeri (barat), pembelinya orang nasional asli. Jika dihitung dengan Gross National Product, lalu bangsa ini memperoleh bagian yang mana dan berapa??
(Jakarta July 06, 2011)
0 comments:
Post a Comment