Monday, July 25, 2011

For Better Future

Masih ada lagi harapan Lain

(Tony B. Trihartanto)


 

    Naik kereta api (KA), tuut, tuut,tuut. Siapa hendak turut? Itu lagu jaman dulu, orang senang dan bangga naik alat transportasi ini. Karena bersih, teratur, murah dan tepat waktu maka KA menjadi favorit. Jaman sekarang? No way, kata anak muda di era global. Jangan bicara tentang KA super cepat ala Indonesia: Argo Bromo atau Argo Lawu. Lihatlah Kereta Rel Listrik (KRL) dan satu lagi, saudaranya, Commuter Line (KRL-CL). KA yang melayani wilayah Jabodetabek ini telah menjadi Kereta Penyiksaan (KP), bukan sekedar KA. KP ini hanya terdapat pada jaman jahiliah penjajahan kompeni Belanda dan Jepang.

    

    Bagaimana tidak? Naik KA model KP ini pada waktu jam sibuk sudah pasti bermandi peluh, berisiko terjepit, dan jangan berharap wajah cerah manakala mereka keluar dari KP setiba di setasiun tujuan. Di Jakarta, jam sibuk itu bukan hanya rush hours (jam ter-buru2) sebagaimana di negara tetangga, Singapura. Jam ini bisa terjadi kapan saja. Artinya, KP tadi bisa dirasakan oleh pelanggan at any time. Aneh rasanya, konsumen membayar sejumlah uang hanya untuk disiksa dan diangkut sekenanya, bak membawa binatang ternak. Jika hal ini diketahui pemerintah Australia, bisa-bisa kita kena penalti keras. Sangat keras bahkan. Jam ter-buru2 di negara tetangga pastilah ada. Namun, dalam keterburuan pun, warga negara mereka dilayani dengan baik. Di service dengan kereta yang dingin tanpa bertebarannya aroma keringat di dalam gerbong. Konsumen dilayani dengan frekwensi rangkaian yang tepat waktu, dapat diperhitungkan kedatangan maupun keberangkatannya, sekaligus harga terjangkau. Mereka semua sangat effisien dan effektif. Baik manajemen Commuter Line nya, Pemerintah Daerah dan Pusat nya, Pekerja kasar nya, serta konsumen nya.


 

    Pada mereka, rasa saling menghormati itu tampak nyata sekali. Upaya memanusiakan manusia itu jelas dapat dibaca. Penghargaan pada hak dan kebutuhan manusia baik yang primer, sekunder maupun tersier sangat jelas dan nyata. Itu semua karena Pemerintahnya dan pemberi layanan benar2 care. Bahkan sangat peduli. Masyarakatnya tahu berterimakasih dan ikut menjaga kesinambungan perbaikan layanan. Mengapa bisa terjadi demikian? Apakah mereka menghayati dan menerapkan Panca Sila terutama sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab? Sama sekali tidak. Mereka tidak memerlukan Panca Sila. Mereka tidak sekedar menghafal, menempel di dinding, menguji orang lain tentang Panca Sila, seolah dia sendiri sudah teruji. Mereka langsung menerapkannya dalam kehidupan nyata. Mereka mau mengerti kebutuhan rakyat dan bertanggung jawab memberikan layanan semaksimal mungkin. Trust & Trusted Society (Masyarakat yang Percaya dan dapat dipercaya) telah dikembangkan hampir sempurna. Disana.


 

    Bagaimana cara kita bisa mencontoh mereka yang berhasil memberikan excellent services pada rakyat mereka di negara yang manusiawi? Sangat mudah sekali! Para Pemimpin bangsa Indonesia di setiap level, harap kalian simak, camkan dan lakukan, ikutilah petunjuk ini: Pertama, hilangkan sifat sombong pada diri kalian, para pejabat negara. Kedua, bersikaplah mau belajar dan mengerti kebutuhan rakyat. Ketiga, terjunlah langsung ke lapangan tanpa harus diberikan pengawalan khusus. Sejak dari Ketua RT (walaupun bukan pejabat negara), Gubernur selaku penguasa tunggal daerah, Menteri selaku manajer sektor, Presiden sebagai otoritas tertinggi Negara ini, para anggota legislatif yang wajib menyusun hukum serta Kapolri komandan tertinggi pengamanan wilayah nasional, datanglah, belilah karcis dan naiklah KP atau moda transportasi umum lainnya (Bus kota, Ferry, Perahu dsb). Antrilah sendiri berdesakan untuk mendapatkan tiket yang dibutuhkan. Rasakan bau tetesan keringat dari ketiak rakyatmu. Cobalah peroleh injakan kaki penumpang sebelahmu. Duduklah berdesakan dengan penumpang lain (kalau kau dapatkan tempat duduk!!). Ikuti perasaanmu jika ada ibu hamil atau penumpang usia lanjut berdiri disebelahmu.


 

Semua pengalaman diatas adalah guru paling utama agar kalian, para pejabat, mampu merasakan derita, sakit dan sengsaranya menjadi orang kecil. Menghayati betapa terpuruknya menjadi kaum dhuafa yang harus berjuang di setiap celah dan strata kehidupan. Dari pelajaran kehidupan secara langsung tersebut, insyaAllah kalian, para pejabat akan menjadi cerdas, pintar dan bijaksana dalam mengambil keputusan untuk masyarakat luas. Jangan biarkan derita rakyat berkelanjutan. Cukup sudah mendengar keluhan mereka akan beratnya kehidupan masa kini, melihat betapa tersiksanya mereka memenuhi hajat hidup (yang bahkan hanya batas minimal). Kalau kalian, para pejabat tidak juga berubah menuju kebaikan dengan pengalaman ini, maka kalian adalah orang ter"gebleg" yang saya pernah kenali. Karenanya, kalian tidak pantas menjadi seorang pejabat.

_(Jakarta July 11, 2011)_

0 comments:

Post a Comment

 

Copyright © Tony Bambang Tree